pencemaran udara

Pencemaran udara sudah menjadi masalah yang serius di kota-kota besar di Indonesia. Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia serta ekosistem telah menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Berdasarkan studi Bank Dunia tahun 1994 dinyatakan bahwa kerugian ekonomi yang disebabkan polusi udara di Jakarta sebesar Rp500 milyar yang diperhitungkan dari 1.200 kematian prematur, 32 juta masalah pernapasan, dan 464 kasus asma. Peningkatan pencemaran udara disebabkan peningkatan pertumbuhan penduduk dan laju urbanisasi yang mendorong pertumbuhan kendaraan bermotor, penurunan ruang terbuka hijau, perubahan gaya hidup yang mendorong pertumbuhan konsumsi energi, ketergantungan kepada minyak bumi sebagai sumber energi, serta kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pencemaran udara dan pengendaliannya.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Pencemaran udara sudah menjadi masalah yang serius di kota-kota besar di Indonesia. Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia serta ekosistem telah menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Berdasarkan studi Bank Dunia tahun 1994 dinyatakan bahwa kerugian ekonomi yang disebabkan polusi udara di Jakarta sebesar Rp500 milyar yang diperhitungkan dari 1.200 kematian prematur, 32 juta masalah pernapasan, dan 464 kasus asma. Peningkatan pencemaran udara disebabkan peningkatan pertumbuhan penduduk dan laju urbanisasi yang mendorong pertumbuhan kendaraan bermotor, penurunan ruang terbuka hijau, perubahan gaya hidup yang mendorong pertumbuhan konsumsi energi, ketergantungan kepada minyak bumi sebagai sumber energi, serta kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pencemaran udara dan pengendaliannya.

Untuk mengatasi peningkatan pencemaran udara, pemerintah telah melakukan beberapa upaya antara lain mencanangkan Program Langit Biru mulai tahun 1996. Program Langit Biru bertujuan untuk menciptakan mekanisme kerja dalam pengendalian pencemaran udara yang berdaya guna dan berhasil guna, mengendalikan pencemaran udara, mencapai kualitas udara ambien yang memenuhi standar kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya, dan mewujudkan perilaku manusia sadar lingkungan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 23E Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Undang-Undang No. 15 Tahun 2004, dan Undang-Undang No. 15 Tahun 2006, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) telah melakukan pemeriksaan atas Program Langit Biru untuk Tahun Anggaran 2006 dan 2007 pada Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Departemen Perhubungan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Departemen Perindustrian, dan instansi lain yang terkait.

Pemeriksaan dilakukan dengan berpedoman pada Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) Tahun 2007 dan Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) BPK-RI Tahun 2002. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai apakah pemerintah pusat dan instansi terkait dalam kegiatan pengendalian pencemaran udara serta pengendalian dampak lingkungan telah mematuhi peraturan yang berlaku.

  1. TUJUAN

ü untuk mengetahui penyebab pencemaran udara

ü mengetahui penyebab pemanasan global

ü dampak pencemaran udara

ü upaya pengendalian pencemaran udara


BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pencemaran Udara Dan Pemanasan Global

Pencemaran udara menjadi masalah serius di seluruh dunia. Pencemaran udara merupakan salah satu penyebab timbulnya pemanasan global yang mengakibatkan terjadinya perubahan iklim. Pemanasan global bersumber dari emisi gas rumah kaca (GRK) yang disebabkan kenaikan konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) karena kenaikan pembakaran bahan baker minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan emisi GRK adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan chloro fluoro karbon (CFC).

Emisi GRK meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan peningkatan GRK tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5°C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal tersebut akan mengakibatkan suhu permukaan bumi meningkat dan menimbulkan perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Dampak dari peningkatan suhu permukaan bumi adalah terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap CO2 di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Kondisi tersebut mengakibatkan negara kepulauan seperti Indonesia akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.

Kontribusi Indonesia bagi pemanasan global. Indonesia berada di peringkat tiga penyumbang emisi gas buang CO2 setelah Amerika Serikat dan Republik Rakyat Cina (RRC). Penyumbang terbesar emisi gas buang CO2 adalah kebakaran hutan. Peningkatan CO2 berdampak terhadap pemanasan global.

  1. Factor pencemar udara

Pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia berdampak besar terhadap penurunan kualitas udara secara nasional. Berdasarkan laporan Environmental Performance Index tahun 2006 yang disusun oleh Universitas Yale menunjukkan kualitas udara Indonesia berada di posisi seratus dua puluh empat (124) dengan skor 25,1 dari seratus tiga puluh tiga (133). Uganda adalah negara yang memiliki kualitas udara paling bagus dengan skor 90,0, sedangkan Bangladesh adalah negara yang memiliki kualitas udara paling buruk dengan skor 6,9.

Berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara tahun 2004 yang dilakukan KNLH di sepuluh kota besar di Indonesia menunjukkan kualitas udara berkisar antara tidak sehat sampai sehat, kecuali Palangkaraya yang mengalami beberapa hari sangat tidak sehat (dua hari) dan berbahaya (lima hari). Pemantauan kualitas udara secara nasional dilakukan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan menggunakan peralatan air quality monitoring station (AQMS) yang ditempatkan di sepuluh kota besar di Indonesia yaitu: Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Medan, Denpasar, Pontianak, Palangkaraya, Pekanbaru, dan Jambi. Sistem pemantauan tersebut memantau konsentrasi CO, SO2, NOx, O3, dan PM10. Data yang diperoleh digunakan untuk menghitung indeks standar pencemaran udara (ISPU) dan ditampilkan pada papan display ISPU yang tersebar di beberapa lokasi di kota-kota tersebut di atas.

  1. Sumber pencemar udara

Sumber pencemaran udara dapat dikategorikan atas sumber bergerak dan sumber tidak bergerak, yang meliputi sektor transportasi, industri, dan domestik. Sumber pencemaran udara adalah:

Kualitas bahan bakar, emisi kendaraan bermotor, dan emisi industri. Kualitas bahan bakar berpengaruh terhadap kualitas emisi. Kendaraan bermotor dan kegiatan industri merupakan salah satu sumber pencemaran udara. BBM berupa bensin bertimbal dan solar dengan kandungan belerang tinggi menyebabkan pembakaran dalam mesin tidak sempurna. Hasil pembakaran tersebut berupa polutan yaitu CO, HC, SO2, NO2, dan partikulat. Sejak Juni 2007, Indonesia telah bebas dari bensin bertimbal, sementara kandungan belerang dalam solar belum sepenuhnya rendah, khususnya solar 48. Sebagain besar industri di Indonesia mengunakan bahan bakar Marine Fuel Oil (MFO) dibandingkan High Speed Diesel (HSD), minyak tanah, dan Industrial

Diesel Oil (IDO). Kandungan belerang dalam MFO di Indonesia lebih tinggi dibandingkan HSD, minyak tanah, dan IDO menyebabkan MFO menghasilkan polutan SO2 lebih tinggi dibandingkan bahan baker lainnya.

Sistem transportasi dan manajemen lalu lintas. Sistem manajemen transportasi yang belum baik antara lain kurang memadainya angkutan masal menyebabkan pemakaian kendaraan pribadi meningkat. Di samping itu, manajemen lalu lintas yang belum baik antara lain ditandai dengan meningkatnya kemacetan. Meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi dan kemacetan yang timbul menyebabkan meningkatnya emisi gas buang.

Sumber pencemaran lainnya. Pencemaran lainnya berasal dari aktivitas domestik dan penggunaan bahan bakar untuk keperluan rumah tangga, pembakaran sampah secara terbuka, saluran air buangan, dan penguapan bahan bakar saat pengisian di stasiun pengisian bahan bakar.

  1. Dampak pencemaran udara

Pencemaran udara berdampak pada kesehatan, tumbuhan, bangunan, ekonomi, dan pemanasan global.

Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan. Rendahnya kualitas udara di dalam maupun di luar rumah menyebabkan penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan gangguan saluran pernafasan lainnya. Penyakit tersebut menduduki peringkat pertama yang dilaporkan oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan.

Dampak pencemaran udara terhadap tumbuhan. Kualitas udara merupakan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan vegetasi. Beberapa studi menunjukkan tumbuhan yang ditanam sepanjang jalur jalan utama di kota, tingkat pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan di luar kota.

Dampak pencemaran udara terhadap bangunan. Kepadatan area perkotaan, asap, dan partikel udara yang berasal dari kendaran bermesin diesel menyebabkan kotornya permukaan bangunan. Gabungan hal tersebut mempercepat pengikikisan bangunan.

Dampak pencemaran udara terhadap pemanasan global. Pemanasan global merupakan peningkatan secara gradual dari suhu permukaan bumi yang sebagian disebabkan oleh emisi dari zat-zat pencemar seperti karbondioksida (CO2), metan (H4) dan oksida nitrat (N2O). Zat-zat pencemar tersebut berkumpul di atmosfir membentuk lapisan tebal yang menghalangi matahari dan menyebabkan pemanasan planet dan efek rumah kaca. Pembangkit listrik, industri, dan kendaraan bermotor merupakan sumber utama penghasil CO2. Studi pengembangan strategi nasional tentang mekanisme pembangunan berkelanjutan memperkirakan Indonesia akan mengkontribusi 672 juta ton CO2 tahun 2004, meningkat 200% dibandingkan tahun 2000 akibat

pemakaian energi pada sektor-sektor tersebut.

  1. Pengendalian pencemaran udara.

Pengendalian pencemaran udara adalah upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran, serta pemulihan mutu udara dengan melakukan inventarisasi mutu udara ambien, pencegahan sumber pencemar, baik dari sumber bergerak maupun tidak bergerak. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemeritah pusat antara lain:

Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemeritah pusat antara lain:

1.Penetapan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pencemaran udara seperti Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

2.Penentuan pengelola pengawasan dan penanggungjawab pengendalian pencemaran udara serta dampaknya, yaitu:

a.Kementerian Negara Lingkungan Hidup bertanggungjawab terhadap regulasi emisi dan pemantauan dampak lingkungan yang terjadi;

b. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral bertanggungjawab terhadap pengawasan dan pengendali mutu bahan bakar;

c. Departemen Perindustrian bertanggungjawab mengawasi produk komponen kendaraan yang ramah lingkungan dan mengawasi dan sertifikasi bengkel dalam rangka meningkatkan kualitas udara di perkotaan;

d. Departemen Perhubungan bertanggungjawab pengujian tipe untuk kendaraan bermotor produksi baru termasuk uji emisi gas buang dan pengadaan dan pemasangan converter kit;

e. Pemerintah Daerah bertanggungjawab terhadap pengujian kendaraan bermotor yang sedang berjalan.

3. Melaksanakan kegiatan pengendalian pencemaran udara antara lain dengan pencanangan Program Langit Biru.yaitu : Menetapkan regulasi tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor baik yang sedang diproduksi maupun kendaraan lama. Regulasi ini mengacu kepada standar emisi kendaraan EURO-II yang mensyaratkan bahwa kandungan timbal dan sulfur dalam bahan bakar bensin adalah di bawah angka 500 ppm (parts per-million).


BAB III

PEMBAHASAN

A. KESIMPULAN

Permasalahan lingkungan yang kerap mengancam kota-kota besar di Indonesia saat ini adalah pencemaran udara terutama yang bersumber dari emisi kendaraan bermotor. Sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk dan intensitas ekonomi yang cukup tinggi sekaligus sebagai pusat kegiatan industri seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar dan Medan membutuhkan suatu moda transportasi.

Penurunan kualitas udara ambien terutama di kota-kota besar Indonesia telah menjadi masalah yang membutuhkan penanganan serius mengingat sudah pada tingkatan yang dapat menganggu kesehatan masyarakat. Penurunan kualitas udara terjadi karena emisi yang masuk ke udara ambien melebihi daya dukung lingkungan. Lingkungan tidak mampu menetralisir pencemaran yang terjadi.

B. SARAN

Pencegahan pencemaran udara meliputi upaya-upaya untuk mencegah terjadinya pencemaran udara dengan cara:

a. Penetapan baku mutu udara ambien, baku mutu emisi sumber tidak bergerak, baku tingkat gangguan, ambang batas emisi gas buang dan kebisingan kendaraan bermotor

b. Penetapan kebijakan pengendalian pencemaran udara meliputi kebijakan teknis dan operasional, program kerja daerah

posted by budi

About these ads

6 comments on “pencemaran udara

  1. Permasalahan pencemaran udara memang merupakan masalah serius. solusinya apa ya? Kami akan membuat sensor gas berbasis lapisan tipis ZnO.

  2. makasih banyak !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    quww kan g’ susah lagi cari tentang pencemaran udara nmoga sukses kedepannya aminnnnnnnnnnnnnnnnn

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s