Epidemologi Lingkungan dan Manfaat Aplikasinya dalam mengantisipasi Limbah Rumah Sakit

PENDAHULUAN

Dalam mencapai tujuan pembangunan dibidang kesehatan , pelayanan rumah sakit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan pada umumnya, yang memerlukan penanganan dan perhatian yang seksama.

Rumah Sakit sebagai salah satu pelayanan umum yang berfungsi untuk menangani, merawat dan mengobati orang sakit akan menghasilkan limbah dengan kuantitas dan kualitas yang perlu mendapat perhatian, karena didalamnya mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3).

Rumah Sakit di Indonesia berjumlah 1090 dengan 121.996 tempat tidur. Dari hasil kajian terhadap 100 rumah sakit di Jawa dan Bali menunjukkan bahwa rata- rata produksi sampah sebesar 3,2 kg/ tempat tidur/ hari, sedangkan produksi limbah cair sebesar 416,8 liter/ tempat tidur/ hari. Analisa lebih jauh menunjukkan, produksi sampah (limbah padat) berupa limbah domestik sebesar 76,8%, dan berupa limbah infeksius 23,2 %. Diperkirakan secara nasional produksi sampah atau limbah padat rumah sakit sebesar 376.089 ton/ hari, dan produksi air limbah sebesar 48.985,70 ton / hari. ( profil DepKes 2000).

Dari gambaran tersebut dapat dibayangkan, betapa besar potensi rumah sakit untuk mencemari lingkungan dan kemungkinannya menimbulkan kecelakaan serta penularan penyakit.

Dengan adanya limbah rumah sakit yang mempunyai potensi yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat maupun lingkungan, maka sebagai upaya untuk menangani dampak yang mungkin ditimbulkan pihak rumah sakit hendaknya dapat melakukan suatu upaya pengolahan terhadap limbah rumah sakit, sehingga pada akhirnya limbah yang akan dibuang kelingkungan sudah memenuhi standart baku mutu buangan yang ada.

TUJUAN.

Untuk memperoleh gambaran tentang manfaat epidemologi lingkungan dan aplikasinya dalam mengantisipasi limbah rumah sakit.

KAJIAN PUSTAKA.

1. Tinjauan tentang limbah rumah sakit.

Rumah sakit menghasilkan limbah dalam jumlah besar, dan beberapa diantaranya membahayakan dan menimbulkan gangguan kesehatan bagi pengunjung dan terutama kepada petugas yang menangani limbah tersebut serta masyarakat yang ada disekitar rumah sakit. Limbah rumah sakit sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia. Selain membawa kuman penyakit, juga mengandung bahan- bahan beracun, penyebab iritasi, gangguan bau dan bahan- bahan lain yang mudah terbakar.

2. Kategori limbah rumah sakit.

Secara umum limbah rumah sakit dibagi dalam 4 kategori, yaitu:

a. Limbah secara umum yang bersifat normal sebagaimana limbah rumah tangga + 85 % dari seluruh limbah rumah sakit.

b. Limbah infeksius, semua jenis limbah yang terkontaminasi oleh mikroorganisme pathogen termasuk limbah paologis + 10 %.

c. Limbah toksis yang bersifat toksis, korosif dan mudah terbakar termasuk sisa-sisa bahan farmasi + 4 – 5 %.

d. Limbah yang mengandung radio isotop + 1 % ( Wahyuni, 2000).

3. Jenis- jenis limbah rumah sakit.

Jenis-jenis limbah yang ada di rumah sakit taitu:

a. Limbah klinik, limbah ini dihasilkan selama pelayanan pasien secara rutin, dari ruang pembedahan, dan dari unit- unit resiko tinggi. Contohnya : perban bekas, cairan badan, anggota badan yang diamputasi, jaru suntik, botol obat, dan produk darah.

b. Limbah patologis, limbah ini juga dianggap beresiko tinggi dan sebaiknya di autoklave sebelum keluar dari unit patologi, limbah tersebut harus diberi label biohazard.

c. Limbah bukan klinik, limbah ini meliputi kertas-kertas pembungkus atau kantong, dan plastik yang tidak berkontak dengan cairan badan. Meskipun tidak menimbulkan resiko sakit, limbah tersebut cukup merepotkan karena memerlukan tempat yang besar untuk membuangnya.

d. Limbah dapur, limbah ini mencakup sisa-sisa makanan dan air kotor. Berbagai serangga seperti kecoa, lalat, dan hewan mengerat seperti tikus merupakan gangguan bagi staf maupun pasien di rumah sakit.

e. Limbah radio aktif, limbah ini menimbulkan persoalan pengendalian infeksi dirumah sakit, pembuangannya secara aman perlu diatur dengan baik.

Pemberian kode warna yang berbeda untuk masing- masing sangat membantu pengelolaan limbah tersebut, misalnya untuk limbah klinik warna kuning, bukan klinik berwarna hitam.

4. Bahaya limbah bagi komunitas rumah sakit.

Pusat pengelolaan limbah di rumah sakit mutlak diperlukan, terutama pengelolaan limbah cair, sebab limbah ini sangat berbahaya bagi kondisi kesehatan komunitas rumah sakit. Rumah sakit memang perlu memang perlu memilki penglahan limbah yang baik dan menyeluruh, agar rumah sakit tersa nyaman, segar dan terjaga kesehatan lingkungan maupun kesehatannya untuk pasien, pekerja, pengunjung serta masyarakat sekitarnya.

Limbah yang tergolong B3 adalah semua limbah atau buangan cair rumah sakit kecuali air hujan, dan pengolahannya apabila dilakukan secara profesional maka akan mengurangi padatan tersuspensi, jumlah padatan terapung, jumlah bahan organik, membunuh bakteri pathogen dan mengurangi unsur nutrisi yang berlebihan, serta mengurangi unsur lain yang dianggap dapat menimbulkan dampak negatif bagi ekosistem.

Pengaruh limbah rumah sakit apabila tidak ditangani secara baik maka akan menimbulkan efek-efek berbahaya bagi komunitas rumah sakit dan lingkungannya, efek-efek negatif tersebut adalah:

a. Memberikan gangguan terhadap manusia, berupa infeksi karena bakteri dan virus, serta keracunan bagi pestisida, logam berat dan bahan kimia.

b. Gangguan terhadap genetik dan reprooduksi manusia, seperti kemandulan dan mutasi gen karena radio aktif dan pestisida.

c. Gangguan kenyamanan dan estetika, seperti bau, warna dan rasa.

d. Kerusakan pada ekosistem, seperti rusaknya habitat dan plasma.

e. Kerusakan pada binatang dan tanaman

f. Korosi dan pendangkalan karena endapan lumpur.

5. Manfaat epidemologi dan aplikasinya terhadap limbah rumah sakit.

a. Manfaat epidemologi lingkungan.

Epidemologi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari temuan epidemologi dari sebaran kelainan pada populasi yang mendapat paparan dari sumber bukan lingkungan kerja dan efek yang ditimbulkan oleh paparan lingkungan tersebut lebih kecil dari efek yang disebabkan oleh paparan di tempat kerja. Epidemologi lingkungan fungsinya cukup jelas, karena dapat mengidentifikasi kumpulan masyarakat yang mempunyai resiko terkena dampak pencemaran yang perlu dilindungi. (Mukono, 2002. hal.7).

Faktor penting yang perlu diperhatikan pada epidemologi lingkungan adalah bagaimana mengidentifikasi masalah lingkungan dengan memakai pendekatan epidemologi untuk mempelajari interaksi paparan lingkungan dengan terjadinya penyakit yang ditimbulkan. Didalam ilmu epidemologi lingkungan alasan untuk mencari penyebab terjadinya penyakit adalah sagat penting. Perlu diketahui hubungan asosiasi antara paparan lingkungan dan penyakit yang harus dievaluasi dan di interprestasi kemungkinan terjadinya hubungan sebab akibat. Metode baru dari pelaksanaan epidemologi lingkungan dipakainya pertanda biologis (biological marker dan proses biological monitoring).

Manfaat epidemologi dan aplikasinya terhadap limbah rumah sakit adalah sejauh mana efek limbah medis yang ada di rumah sakit dapat menimbulkan paparan terhadap lingkungan, dan masyarakat yang mempunyai resiko dari hasil yang ditimbulkan serta usaha mengatasinya. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah mencarikan solusi teknik pengolahan yang sesuai dengan kondisi yang ada.

b. Tekhnologi pengolahan limbah.

Tekhnologi pengolahan limbah medis yang sekarang jamak dioprasikan hanya berkisar antara masalah tangki septik dan insinerator. Keduanya sekarang terbukti memiliki nilai negatif. Tangki septik banyak dipersoalkan lantaran rembesan air tangki yang dikhawatirkan mencemari tanah. Terkadang ada beberapa rumah sakit yang membuang hasil akhirnya langsung ke sungai – sungai, sehingga dapat dipastika sungai tersebut mengandung zat medis.

Sedangkan insinerator yang menerapkan tekhnik pembakaran sampah medis merupakan sumber utama zat dioksin yang sangat beracun, dan dari hasil penelitian menunjukkan zat dioksin inilah yang menjadi pemicu timbulnya kanker pada tubuh (sinar Harapan, 2003).

Yang sangat menark dari permasalahan ini adalah ditemukannya tekhnologi pengolahan limbah dengan metode ozonisasi. Salah satu metode sterilisasi limbah caair rumah sakit yang direkomendasikan United States Eviromental Protection Agency (USEPA) pada tahun1999.

Proses pengolahan limbah dengan meode ozoznisasi adalah dimana limbah cair yang berasal dari berbagai kegiatan laboratorium, dapur dan loundry, toilet dan sebagainya dikumpulkan pada sebuah kolam equalisasi lalu dipompakan ketangki reaktor untuk dicampurkan dengan gas ozon. Gas ozon yang masuk dalam tangki reaktor bereaksi mengoksidasi senyawa organik dan membunuh bakteri pathogen pada limbah cair. Limbah cair yang sudah teroksidasi dialirkan ketangki koagulasi untuk dicampurkan bahan- bahan koagulan, lalu diproses ditangki sedimentasi. Pada proses ini polutan mikro, logam beraat dan sisa hasil proses oksidasi dalam tangki reaktor dapat diendapkan. Selanjutnya dilakukan proses penyaringan pada tangki filtrasi. Pada tangki ini terjadi proses penyerapan zat – zat polutant yang terlewatkan pda proses koagulasi. Zat- zat polutant akan hilang karena adanya karbon aktif. Apabila seluruh permukaan karbon aktif sudah jenuh, atau tidak mampu lagi menyerap maka proses penyerapan akan berhenti, dan pada saat itu karbon aktif harus diganti dengan karbon aktif baru, atau didaur ulang dengan cara dicuci. Air yang keluar dari filter karbon aktif untuk selanjutnya dapat dibuang dengan aman kesungai.

PEMBAHASAN.

Kegiatan Rumah sakit yang sangat kompleks tidak saja memberikan dampak positif bagi masyarakat disekitarnya, tetapi juga kemungkin dampak negatif. Dampak negatif ini berupa cemaran akibat proses kegiatan maupun limbah yang dibuang tanpa pengelolaan yang benar.

Dari data yang ada bahwa dari 129 rumah sakit yang ada di Jawa Tengah baru 43 RS yang mempunyai Instalasi Pengolahan Akhir Limbah (IPAL). Dan dari jumlah itu baru 6 rumah sakit yang IPAL nya memenuhi standart. Disisi lin DepKes mengungkapkan, tak kurang dari 100 rumah sakit pemerintah di pulau Jawa belum mempunyai fasilitas pengolahan limbah yang memadai. Akibatnya mereka dituding sebagai salah satu penyumbang bahan beracun dan berbahaya yang disebut limbah B3.

Banyaknya rumah sakit yang tidak mempunyai fasilitas pengolahan limbah memberikan satu pertanda buruk terhadap citra rumah sakit dimasa mendatang. Kita ketahui limbah rumah sakit banyak mengandung mikroorganisme penyebab penyakit dan zat kimia, yang dapat membahayakan bagi kesehatan masyarakat sekitar rumah sakit tersebut, jadi bila limbah tidak diolah dengan baik, RS justru akan menjadi sumber kuman dan bahan pencemar bagi kesehatan, sebab hampir setiap proses pengobatan dan pengguanaan alat medis selalu menggunakan bahan kimia yang bisa saja sangat berbahaya jika langsung dilepas ke lingkungan tanpa diolah terlebih dahulu. Untuk mencegah pencemaran lingkungan yang diakibatkan dari limbah rumah sakit maka perlunya tekhnik pengolahan limbah sehingga limbah buangan dari RS memenuhi standart sebelum dibuang ke badan air. Disamping itu limbah dari hasil uji laboratorium tidak bisa diurai hanya dengan aerasi, atau activted sludge karena bahan- bahan tersebut mengandung logam berat dan inveksikus, sehingga harus di sterilisasi atau di normalkan sebelum dilempar menjadi limbah tidak berbahaya.

Disisi lain penanganan limbah padat yang ada di rumah sakit perlu perhatian untuk penanganannya, dimana salah satu kasus yang terjadi pada RS Gambiran Bandar Lor dimana warga mengeluhkan berbagai limbah klinis yang dihasilkan pihak rumah sakit mengganggu lingkungan di sekitarnya apabila dilakukan pemusnahannya.

Pembakaran yang dilakukan oleh pihak rumah sakit menimbulkan dampak terhadap warga yang ada disekitar rumah sakit, ena tidak ada pemisahan antara limbah medis dan non medis, sehingga pada proses akhir dapat menimbulkan dampak terhadap msyarakat yang ada disekitar rumah sakit. Salah satu dampak yang dirasakan oleh warga yang ada adalah pembakaran limbah medisnya. Selain hawa panas, sering kali timbul bau zat kimia dari pembakaran limbah medis seperti kapas pembalut, perban bekas yang dipakai untuk mengobati pasien. Hal ini disebabkan karena letak rumah sakit yang dekat dengan pemukiman, maka salah satu teknik pengolahannya untuk mencegah perlunya penanganan khusus didalam pemakain insinerator yang dilengkapi degan filter penyaring untuk pembakaran limbah, sehingga asap buangan yang dihasilkan pada saat pembakaran limbahnya dapat di minimalkan.

PENUTUP.

Kesimpulan.

Manfaat Epidemologi Lingkungan dalam mengantisipasi limbah Rumah Sakit adalah dapat mengidentifikasi secara dini buangan limbah Rumah Sakit, dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat yang ada dilingkungan Rumah Sakit dengan merencanakan tekhnik pengolahan limbah yang sesuai.

Saran.

1. Hendaknya pihak rumah sakit memperhatikan teknik pengolahan limbah medis yang ada di rumah sakit, sehingga limbah yang akan dibuang ke badan air tidak berdampak baik terhadap manusia dan lingkungan.

2. Perlu kerjasama lintas sektoral untuk pembangunan / perbaikan instalasi pengolahan limbah rumah sakit melalui anggaran pembangunan daerah maupun sumber bantuan dana lainnya.

12 comments on “Epidemologi Lingkungan dan Manfaat Aplikasinya dalam mengantisipasi Limbah Rumah Sakit

  1. buat penulis makalah terima kasih yach.. soalnya aku lagi mencari tambahan masukan buat PR kampus .. kayaknya bisa jadi referensi ke depan ..

  2. Ping-balik: EPIDEMIOLOGI LINGKUNGAN « DOMPET INFO

  3. artikelnya cukup membantu🙂

    oiya, mohon informasi tentang buku-buku atau literatur tentang jenis-jenis limbah rumah sakit dan penanganannya, terima kasih sebelumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s