Save Water Mosque

Oleh : Muh. Hasbi Karim,B.Sc.,SKM.,MPH (EH) (Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kementerian Kesehatan Makassar)
Air sebagai unsur utama dalam kehidupan sudah tak terbantahkan lagi baik sebagai kebutuhan dasar maupun untuk berbagai kebutuhan kebutuhan tambahan lainnya. Secara ril ternyata sekitar 66 % tubuh manusia terdiri dari air dan manusia pun tak akan dapat bertahan untuk hidup karena mengalami dehidrasi tanpa meminum air dalam jumlah yang cukup. Di kehidupan sehari – hari air kita butuhkan pada setiap aspek kehidupan kita melalui dari memasak sampai membersihkan dan mencuci. Dalam dunia ilmiah air diketahui sebagai pelarut terbaik bagi bahan kimia untuk keperluan berbagai penelitian di laboratorium. Masih banyak lagi  manfaat lain dari air, namun kajian dalam tulisan ini diutamakan pada aspek upaya pemanfaatan air secara bijak untuk menjaga ketersediaannya dan juga sebagai upaya penghematan.

Bumi kita 70 % ditutupi oleh air dan dihari akhir nantipun air tetap akan hadir menemani ummat Rasulullah di Surga, Allah berfirman dalam Al Quranul Karim : “.. Jannatun tajri min tahtihalanharu .., syurga  yang mengalir di bawahnya  sungai – sungai ….” ( S. Ali Imran ayat 15 ).  Subhanallah yang telah menciptakan air untuk kebutuhan kita manusia. Salah satu manfaat air yang bernilai sangat essensial bagi ummat Islam adalah digunakannya air sebagai pensuci dalam berwudhu, walaupun bersuci bisa dengan cara lain yiatu tayammum namun dalam kondisi normal yang dianuurkan adalah berwudhu menggunakan air yang bersih (-suci dan mensucikan-). Air yang digunakan selain harus bersih (-dalam bahasa ilmiah kami sebagai profesional Sanitarian / Ahli Kesehatan Lingkungan-) yaitu air yang kualitasnya memenuhi syarat secara fisik, kimia dan bakteriologis maka secara kuantitaspun yaitu jumlahnya  harus cukup. Penulis sempat mengalami kejadian yang tidak biasa ketika Shalat Jum’at pertama di Bulan Ramadhan tahun 2010 dan kembali berulang di tahun 2011 pada masjid termegah di Makassar yaitu Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M. Yusuf. Tahun lalu  tiba-tiba air berhenti mengalir yang penyebabnya kemungkinan air ditandon habis karena membludaknya jamaah (-Syukur Alhamdulillah semoga selalu demikian, semoga ini benar-benar karena pengaruh Amaliah Ramadhan dimana semua orang berlomba-lomba beribadah, bukan pengaruh “pasar ramadhan” atau hal lain-) . Ketika itu semua kran berhenti mengalirkan air, baik yang di tempat wudhu maupun yang di kamar mandi, kejadian ini berlangsung sekitar 5 – 10 menit. Walaupun singkat tapi cukup membuat jamaah kebingungan, sebagian jamaah menggunakan air yang masih tersisa di bak kamar mandi untuk berwudhu (-termasuk penulis-) sementara yang baru selesai membuang hajat kecilnya terpaksa menggunakan tissue dan ada juga yang dengan setengah berteriak meminta anak-anak yang cukup “kreatif” menjual jasa menyiapkan air pada wadah bekas air mineral dan banyak lagi kejadian yang tidak biasa. Sementara di tahun ini selepas Shalat Jumat tiba – tiba diumumkan adanya masalah tehnis sekaitan dengan kebocoran pipa air. Hal – hal seperti itu merupakan suatu gambaran kecil betapa air dalam jumlah yang cukup sangat dibutuhkan di masjid baik untuk berwudhu maupun kebutuhan lainnya seperti kamar mandi dan toilet, membersihkan lantai dan bagian mesjid lainnya dan juga untuk menyiram taman.

Namun betapa ironisnya air sisa berwudhu yang jumlahnya berjuta liter dibiarkan terbuang begitu saja padahal sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali. Secara sederhana jumlah air yang digunakan dapat dihitung. Perhitungan berikut ini secara kasar dan sederhana karena hanya untuk memudah pemahaman terhadap konsep yang ditawarkan, angka – angka yang lebih detail dan tehnis tidak disajikan. Berdasar hasil pencermatan penulis diketahui bahwa penggunaan air setiap berwudhu bervariasi dari 1 sampai 3 liter per orang tergantung pada cara membuka kran dan kecepatan aliran. Untuk kecepatan aliran rendah dengan kran terbuka penuh air yang terpakai antara 1 – 1,5 liter sedang dengan kran terbuka setengah hanya menghabiskan antara 0,75 – 1 liter. Untuk kecepatan aliran tinggi dengan kran terbuka penuh dihabiskan air sekitar 2,5 – 3 liter dan bila kran dikecilkan dengan setengah terbuka jumlah air yang terpakai antara 1,5 – 2 liter. Kalau dirata-ratakan maka air yang digunakan untuk berwudhu sekitar 2 liter per orang, sehingga dapat dihitung bahwa untuk masjid seukuran Al Markaz Al Islami yang mampu menampung sekitar 10.000 orang jamaah yang dalam suasana seperti saat ini terkadang sampai penuh maka jumlah air yang digunakan sekitar 20.000 liter perwaktu shalat, sehingga dalam lima kali waktu shalat sehari semalam pastilah tidak kurang dari sekitar 50.000 liter air terbuang begitu saja. Di Kota Makassar berdasarkan data BPS 2006 terdapat sekitar 864 masjid dan 112 mushallah, rata –rata masjid berkapasitas 500 orang  dan mushallah 100 orang berarti daya tampung total masjid dan mushallah ada sekitar 400.000 jamaah lebih, anggaplah setengahnya terisi berarti ada 200.000 jamaah maka air yang digunakan untuk satu waktu shalat sekitar 400.000 liter lebih sehingga dalam sehari semalam setidaknya bisa mencapai sekitar 1 juta liter, suatu jumlah yang tidak sedikit. Sekiranya kita mau melakukan upaya penghematan air maka kita akan dapat mengurangi jumlah penggunaan air misalnya saja cukup dengan mengecilkan aliran air dengan hanya membuka setengah kran air maka berarti kita dapat menghemat 500.000 liter air seharinya, belum lagi upaya bijak lainnya. Selain mengurangi jumlah air yang digunakan maka pemanfaatan kembali air buangan wudhu akan menghemat pengeluaran masjid untuk mencukupi kebutuhan air untuk keperluan lainnya seperti membersihkan lantai dan menyiram taman.  Upaya penghematan air ini menjadi semakin perlu jika masjid tersebut berada di daerah yang secara alami sulit diperoleh sumber air yang memenuhi syarat baik kualitas maupun kuantitas.

Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wataala dengan segala kearifannya menciptakan siklus hidrologi air yang secara konseptual menjamin ketersediaan air di bumi. Jumlah air dipermukaan menurut data dari Lenntech Water Treatment Solution sebanyak 1,400.000.000 km3 (1 m3 = 1000 liter). Melalui siklus hidrologi setiap tahunnya air mengaslami presipitasi di daratan sebanyak 119.000 km3 dan 74.200 km3 mengalami evaporasi ke atmosfir melalui evapotranspirasi dari tanah dan tanaman dan dari evaporasi air laut sekitar 450.000 km3 dan sekitar 502.800 km3 dari air terjun. Namunpun demikian keberadaan air sebagai sumber daya alam yang walaupun terbarukan penggunaannya tetap harus lebih bijak mengingat jumlah air tawar yang untuk selanjutnya disebut air bersih hanya sebagian kecil dari jumlah air yang ada di dunia yaitu tidak lebih dari 1 %. Terdapat sekitar 2,200 km3 air dalam tanah yang merupakan sumber yang paling banyak digunakan sementara yang berada di permukaan jumlahnya lebih besar yaitu sekitar 135.000 km3 . Secara persentase dapat dinyatakan bahwa sebanyak 97,14 % dari jumlah air merupakan air permukaan, 2,59 % saja yang merupakan air tawar. Dari 2,59 % tersebut sebagian besar yaitu sekitar 2 % tersimpan dalam bentuk dan lapisan es dan hanya 0,592 % yang terdapat dalam tanah dan 0,014 % yang ada di danau, sungai dan badan air lainnya. Air yang terdapat dalam tanah inilah yang paling banyak digunakan untuk mencukupi kebutuhan akan air bersih termasuk di masjid. Hal ini dikarenakan air tanah mempunyai kualitas fisik yang lebih baik dari air permukaan dan umumnya bersifat “ Ready to use “.

Save water mosque bertujuan untuk melakukan penghematan air baik melaui upaya bijak maupun tehnis . Upaya bijak yang dimaksud adalah perubahan Perilaku dalam penggunaan air dengan maksud menghindari pemborosan air. Upaya ini baik yang terkait secara langsung dengan penggunaan air  untuk berwudhu, maupun yang bersifat tehnis seperti pengaturan pintu masuk dan keluar di tempat wudhu, pembuatan parit bilas kaki dan mengolah kembali air bekas wudhu untuk selanjutnya digunakan kembali untuk berbagai keperluan seperti menyiram taman dan mencuci lain bahkan untuk dugunakan kembali berwudhu tergantung tehnis pengolahan yang digunakan.

Sekaitan dengan berwudhu upaya bijak yang dapat dilakukan seperti ; membuka kran tidak sampai penuh (- dapat mengurangi penggunaan air skitar 25 % – 50 % ), tidak membiarkan air mengalir sebelum berwudhu dan segera menutup kran sebelum berdoa setelah wudhu, tertib penyimpanan alas kaki untuk mengurangi kekotoran lantai tempat wudhu. Selain itu upaya upaya bijak lain yang dapat dilakukan dari aspek tehnis adalah dengan menggunakan “ High water tank “ yaitu dengan menampung air pada reservoar dengan ketinggian tertentu, hal ini selain dimaksudkan untuk menghemat penggunaan listrik dengan hanya satu kali pengisian dengan mesin pompa yang berjalan kontinyu sehingga penggunaan listrik lebih hemat. Selain itu manfaat lainnya adalah juga dapat ditambahkan stop kran pada bagian out let untuk mengatur kecepatan aliran menjadi lebih konstan dan juga mengatur besar kecilnya debit air sehingga air mengalir tidak terlalu deras. Penggunaan mesin pompa secara langsung selain boros listrik karena pompa akan “on” setiap membuka kran sehingga memerlukan penggunaan daya yang lebih besar setiap menghidupkan mesin, juga akan yang mengalir melalui kran tidak terkontrol. High water tank akan menghindarkan hal –hal seperti itu selain menjaga keawetan kran air itu sendiri.

Pengaturan jalan masuk dan keluar di tempat wudhu dimaksudkan agar kaki jamaah tidak kotor lagi setelah berwudhu sehingga mereka tidak perlu membilas ulang lagi kakinya yang berarti menggunakan air yang tambahan, sedang pembuatan parit bilas dimaksudkan untuk mengurangi tingkat kekotoran kaki sebelum masuk ke tempat wudhu dengan maksud mengurangi penggunaan air karena kaki sudah tidak terlalu kotor dan juga lantai ruang wudhu juga tidak kotor sehingga tidak perlu selalu disiram untuk membersihkan.

Pengolahan air bekas wudhu dapat dilakukan dengan tehnologi sederhana dengan metode “ Rapid sand filter up flow system “ yang model dan kapasitasnya dapat disesuaikan dengan kapasitas dan kondisi setiap masjid. Dari hasil pemeriksaan di laboratorium Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar diketahui bahwa perubahan kualitas air sebelum dan sesudah digunakan berwudhu tidak jauh berubah baik secara fisik, kimia, maupun bakteriologis. Walaupun nantinya akan variatif tingkat perubahan kualitas air buangan wudhu yang dipengaruhi oleh sistim pembuangan. Secara umum tahapan yang dapat dilakukan adalah sedimentasi dan filtrasi untuk memulihkan kulaitas secara fisik, sementara desinfeksi tergantung pada peruntukan air hasil olahan . Pada tahapan sedimentasi dan filtrasi kualitas fisik sudah kembali baik dan jika diinginkan untuk digunakan kembali sebagai air untuk berwudhu maka upaya disinfeksi harus dilakukan, namun jika hanya untuk menyiram taman dan membersihkan lantai mesjid maka upaya desinfeksi tidak perlu dilakukan. Model sedimentasi dan filtrasi dapat berupa bak dengan kontruksi bata dan beton, juga dapat menggunakan PVC untuk masjid ukuran kecil atau mushallah. Secara lengkap instalasi pengolahan air terdiri dari bak sedimentasi, bak filtrasi, dan reservoar. Untuk memperoleh gambaran pembanding tentang pentingnya upaya penghematan melalu pemanfaatan ulang air buangan maka penulis paparkan hal berikut ini. Bali Tourism Development Cooperation (BTDC) merupakan kawasan perhotelan elit di kawasan Nusa Dua Bali dengan Room rate terendah sekitar Rp. 1,250,000,- permalam dapat menghemat jutaan liter air perhari untuk menyiram taman dan lapangan golf, untuk perusahaan yang secara nyata profit oriented saja mau melakukan upaya penghematan apalagi masjid yang jelas nonprofit oriented. Bukankah Allah Subahanahu Wataala dalam kapasitasnya sebagai Sang Pencipta tetap saja tidak menyenangi tindakan yang berlebih-lebihan, maka betapa angkuhnya kita sebagai manusia, sebagai hamba yang tidak punya daya dan upaya selain dari Nya jika tetap saja berperilaku kurang bijak dengan membiarkan terbuang begitu saja apa yang sebenarnya masih bisa kita manfaatkan. Semoga dengan membaca tulisan ini kita menjadi sadar dan mau berupaya untuk menghemat penggunaan air bersi dan memanfaatkan kembali air buangan.

Catatan :

  • Jurusan Kesehatan Lingkungan bersedia melakukan pelatihan dan bimbingan tehnis sekaitan dengan Program Save Water Mosque.
  • Alamat Kampus : Jl. Wijaya Kusuma I No. 2 Makassar Telp. 0411-853497, e mail : Kesling_mks@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s